Appreciate for My Old Version Of Me

Halo Ayuk..

Halo diriku…

Apa kabar hari ini?

Cukup melelahkan ya? Terimakasih sudah berusaha sampai sejauh ini

Kamu juga tidak bisa menebak apa yang akan terjadi esok kan?

Biarlah mengalir apa adanya, yang penting kau sudah berusaha dan ingat..

Bersyukur, entah itu hari yang terbaik ataupun terburuh

God already have plans for you, so just do it : )

Pembuatan PZ

PZ (Phisiological Zouth) merupakan larutan yang bersifat isotonik. Larutan isotonik adalah suatu larutan yang mempunyai konsentrasi zat terlarut yang sama (tekanan osmotik yang sama) seperti larutan yang lain, sehingga tidak ada pergerakan air. Sebuah larutan yang mempunyai konsentrasi garam yang sama contohnya sel-sel tubuh yang normal dan darah. Oleh karena itu sel darah merah tidak menjadi pecah atau lisis.

PZ sendiri berasal dari NaCl (Natrium Cloride) dengan konsentrasi dengan rentang 0.85 % – 0.090%. Dalam dunia kesehatan, PZ sangat banyak dimanfaatkan karena sifatnya yang netral.

Berikut ini merupakan prosedur pembuatan PZ.

Alat :

  1. Alat dan bahan
  2. Gelas Arloji
  3. Labu Ukur
  4. Gelas Beaker
  5. Pipiet Tetes
  6. Batang Pengaduk
  7. Corong
  8. NaCl
  9. Aquades
  10.  Komposisi

NaCl dilarutkan dalam aquadest (di mana konsentrasi NaCl dapat dikatakan sebagai PZ jika konsentrasinya 0,85% – 0,90%)Langkah Kerja

Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan

Langkah Kerja

  • Timbang NaCl menggunakan neraca analitik sesuai dengan kebutuhan
  • Tuangkan NaCl ke dalam gelas beaker, lalu tambahkan sedikit aquades kemudian aduk sampai larut
  • Tuang NaCl dalam gelas beaker ke dalam labu ukur melalui corong. Bilas pula sisa NaCl yang berada dalam gelas beker, kemudian tuang kembali kedalam labu ukur. Add kan aquades sampai miniskus berada diatas garis batas labu ukur. Kemudian homogenkan.

Contoh “Surat Cinta dan Benci” untuk Ospek

Apreciated post for my college friends who spent beautiful terrible those days ❤
ps. ini foto pas jaman maba sekitar 3 tahun yang lalu, ngangenin tp tidak berniat untuk mengulangnya lagi hehe

Ospek? Kata yang tidak asing lagi bagi para mahasiswa baru ketika akan memasuki jenjang perkuliahan. Biasanya nih ya, ospek selalu dikaitkan dengan tugas dan hukuman. But, percayalah.. ospek yang benar sesungguhnya dapat memberikan kesan yang baik kepada para maba (kecuali kurang tidur ya hehe). Sekarang bukan jamannya perploncoan, tapi pengkaderan karakter mahasiswa untuk menjadi lebih siap untuk menghadapi kehidpuan perkuliahan yang sebenernya : )

So, these are the example of the “Surat Cinta” and “Surat Benci” versi akuh, happy reading xoxo!

Surat Benci

Dear, Kakak Ter-Eww

Hai kak, apa kabar? Semoga hari ini dan hari selanjutnya kakak selalu menjalani hari yang baik ya. Ini surat benci pertama yang aku buat seumur hidup hehe. Sebelum lanjut buat baca, perlu kakak tau kalo aku itu ga benci saya kakak. Seriuss deh, cuman ya namanya hidup emang harus milih kan? Jadi aku milih kakak untuk surat ini. Aku ga benci, cuman kadang sedikit sebel aja hehe. Selama menjalani ospek, aku sudah mulai terbiasa dengan tugas yang deadlinenya mepet ataupun tugas dadakan lainnya. Ya, walaupun gak sempet tidur, asalkan tugas selesai pasti aku jalanin deh. Kakak itu salah satu kakak tingkat yang lumayan galak, jangan galak galak dong kak, senyum aja pasti nambah cakep. Katanya kalo orang yang sering marah marah, nanti cepet keriput hehe…bercanda kak, jangan marah.

            Dari awal kegiatan ospek, kakak itu udh memperlihatkan wajah wajah kating yang galak, awalnya nyaliku ciut juga. Jarang senyum, ekspresi datar, kadang kalo ngomong kayak orang ngebentak. Hal hal kayak gitu yang kadang bikin sebel, ada aura gelap yang hadir kalo kakak udah mulai handle acara. Hal itu juga yang bikin aku ga berani buat interaksi sama kakak. But, afterall, aku tau kalo kakak itu punya sisi baik yang belum diliatin sepenuhnya. I will wait for that moment. Thankyou karna udh mau baca suratku kak : )

                                                                                                                Sincerely,

                                                                                          Maba yang membencimu

Surat Cinta

Dear, Kakak Ter luv

            Hari ini cerah ya kak? Iya, secerah wajahnya kakak yang selalu manis ke orang lain. Ditengah hecticnya suasana ospek bulan ini, jujur aja kakak selalu jadi motivasi buat semangat lagi. Dari sekian kakak tingkat yang baik, kakak itu selalu juara satu dihatiku lo!!! Serius, duarius deh hehe!! Makasi ya kak karena sudah selalu sabar menghadapi aku dan juga tingkahku yang kadang nyusahin kakak sendiri. Terharuu, gak tau harus make kata kata untuk mengekspresikan rasa sayangnya aku ke kakak.

            Berdasarkan ramalan, aku yang notabenenya seorang Aries punya prinsip “the person who hates the idea of love”. Tapi kali ini suatu pengecualian buat kakak. Surat cinta ini aku dedikasikan sebagai rasa kagumku ke kakak. Kakak yang selalu ramah, baik, murah senyum, dan penyabar. Terimakasih ya kak, sudah menghadirkan sosok kakak perempuan yang selalu menyemangati adiknya kalo lagi rapuh. Semoga setelah ini, kita bisa semakin deket ya kak, ayo hangout bareng kak, sekalian jadi guide tour ku di Singaraja : )

Sincerely,

                                                                                            Maba yang mencintaimu

AMAMI – Analisa Serat Kasar

Hai sobat, kali ini saya akan mencoba untuk membahas mengenai salah satu analisa serat kasar beserta prosedurnya. Selamat membaca : )

A. Prosedur Analisis Serat Kasar

  1. Haluskan bahan hingga dapat melalui ayakan dengan diameter 1 mm (untuk sampel padat kering). Kemudian lakukan penimbangan sample sebanyak 2 – 4 gram secara teliti dengan neraca analitik digital kemudian pindahkan sample ke dalam gelas beker 100 mL.
    Merupakan tahap persiapan sampel. Penimbangan dilakukan dengan memperkirakan kadar serat didalam sampel. Bahan dihaluskan untuk mempermudah proses analisis
  2. Tambahkan etanol 96 % sebanyak 15 mL, lalu aduk dan kemudian diamkan beberapa menit. Kemudian tuangkan kedalam erlemeyer 250 mL. Lakukan kembali proses pencucian sampel dengan etanol 96% dan terakhir lakukan penyaringan.
    Merupakan proses defatting, yaitu penghilangan lemak dalam sampel dengan pelarut lemak. Apabila lemak dalam sampel tergolong tinggi, adabaiknya dilakukan ekstraksi menggunakan soklet.
  3. Hasil endapan dari kertas saring ditambahkan ± 50 mL larutan H2SO4 1,25 % ke dalam erlenmeyer dan diaduk. Pasang pendingin tegak pada mulut erlenmeyer. Kemudian panaskan larutan refluk selama 30 menit dengan penangas air.
    Penambahan H2SO4 berfungsi untuk menghilangkan beberapa macam fraksi yang tidak dapat dicerna oleh manusia dan tidak dapat diketahui komposisi kimia tiap-tiap bahan yang membentuk dinding sel. Sehingga senyawa lain akan terhidrolisis oleh asam dan tersisa serat kasar. Pemanasan dengan pendingin tegak dilakukan untuk mempercepat reaksi dengan maksimal.
  4. Saring suspense melalui kertas saring dan residu yang tertinggal dalam erlemeyer dicuci dengan aquadest mendidih
    Penyaringan dan cuci kertas saring menggunakan akuades panas karena untuk mempertahankan suhu yang terkontrol, melarutkan serat larut yang mungkin masih ada dalam endapat dan menetralkan residu supaya tidak asam untuk menghentikan proses hidrolisis (diuji dengan kertas lakmus atau dapat dilihat dari warna filtrate yang berubah menjadi agak bening). Penyaringan harus segera dilakukan setelah digestion selesai, karena penundaan penyaringan dapat mengakibatkan lebih rendahnya hasil analisa karena terjadi perusakan serat lebih lanjut oleh bahan kimia yang dipakai.
  5. Jika telah selesai, residu langsung tambahkan ± 50 mL larutan NaOH 3,25 %. Lakukan pemanasan larutan refluk kembali selama 30 menit.
    Sama halnya dengan prosedur diatas, penambahan NaOH dilakukan untuk melanjutkan proses hidrolisis senyawa yang dapat larut dengan suasana alkalis sehingga hasil akhir dalam erlemeyer hanya serat kasar sehingga didapat hasil yang valid. Pemanasan dengan pendingin tegak dilakukan untuk mempercepat reaksi dengan maksimal.
  6. Residu dalam kertas saring dicuci kembali dengan aquadest panas (dapat ditambahkan etanol 96%) hingga filtrate tidak bersifat basa lagi (diuji dengan kertas saring)
    Dilakukan untuk menetralkan residu hingga tidak bersifat basa lagi serta menghentikan proses hidrolisis.
  7. Kemudian endapan yang berada dikertas saring pindahkan ke cawan penguap yang telah dikonstankan beratnya terlebih dahulu dan mengeringkannya pada suhu 105° C di dalam oven, kemudian mendinginkannya dan menimbangnya sampai bobot tetap.
    Dilakukan kecawan uap untuk dilakukan proses filtrasi akhir sehingga hasil yang didapat benar benar valid, dan dilakukan proses pengeringan untuk mendapat data yang akan dimasukkan kedalam rumus.
  8. Menghitung Kadar Serat Kasar sampel dengan rumus :
    % Kadar Serat Kasar = 𝑪−𝑩𝑨 𝒙 𝟏𝟎𝟎%
    Keterangan :
     A : Bobot sampel (gram)
     B : Bobot Kertas saring konstan (gram)
     C : Bobot kertas saring + residus setelah pemanasan (gram)

    B. Analisis ADF (Acid Detergent Fiber) metode Van Soesta.
    1. Menimbang sampel kering udara sebanyak 1 g (a) dimasukkan ke dalam gelas beaker dan dituangkan 100 mL larutan Acid Detergent Solution (ADS).
    Bertujuan untuk melarutkan fraksi yang larut dalam ADS sehingga dapat mengukur nilai ADF dengan mengukur kandungan fraksi yang tidak larut dalam ADS
    2. Sampel dipanaskan sampai mendidih selama 60 menit
    Pemanasan dilakukan untuk memaksimalkan dan mempercepat reaksi yang ada.
    3.Sampel yang sudah mendidih disaring dengan krusibel (b) yang sudah terpasang pada pompa hisap dan krusibel diketahui beratnya.
    Penyaringan dilakukan untuk memisahkan hasil dari fraksi larut ADS dan yang tidak larut ADS (berupa residu)
    4.Residu dicuci dengan 50 mL air panas bersuhu 80°C hingga busa menghilang, dan dilanjutkan dengan 50 ml aseton yang diulangi dua kali.
    Pencucian dengan air panas bertujuan untuk melarutkan kemungkinan sisa fraksi terlarut yang masih berada didalam residu sekaligus melarutkan sisa larutan ADS dalam residu. Pemakaian air panas diperuntukan untuk menjaga stabilitas suhu, dan dilanjutkan dengan pemakaian aseton yang digunakan untuk menetralkan suasana sehingga proses hidrolisis bisa terhenti atau dapat juga melarutkan sisa lemak yang masih berada dalam residu.
    5.Sampel dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105 – 110° C selama 8 jam, apabila sudah tidak berbau aseton, kemudian dimasukkan ke dalam eksikator selama 15 menit dan ditimbang.
    Hasil residu yang diharapkan berupa selulosa dan lignin, yang akan di hitung dengan metode gravimetri. Pengovenan dilakukan untuk menghilangkan kadar air dalam residu sehingga didapat berat konstan. Data yang didapat dimasukkan kedalam rumus.
  9. Menghitung Kadar Acid Detergent Fiber (ADF) sampel dengan rumus :
    % Kadar ADF = 𝑪−𝑩𝑨 𝒙 𝟏𝟎𝟎%
    Keterangan :
    A : Bobot sampel (gram)
    B : Bobot krusibel konstan (gram)
    C : Bobot krusibel + residu setelah pemanasan(gram)

    C. Analisis NDF (Acid Detergent Fiber) metode Van Soest
    a. Menimbang sampel kering udara sebanyak 1 g (a) dimasukkan ke dalam gelas beaker dan dituangkan 100 ml larutan detergen netral dan 0,5 g Na2SO3 (Neutral Detergent Solution/NDS)
    Bertujuan untuk melarutkan fraksi yang larut dalam NDS seperti protein, lemak, karbohidrat sehingga dapat mengukur nilai NDF dengan mengukur kandungan fraksi yang tidak larut dalam NDS.
    b. Sampel dipanaskan sampai mendidih selama 60 menit
    Pemanasan dilakukan untuk memaksimalkan dan mempercepat reaksi yang ada.
    c. Sampel yang sudah mendidih disaring dengan krusibel (b) yang sudah terpasang pada pompa hisap dan krusibel diketahui beratnya.
    Penyaringan dilakukan untuk memisahkan hasil dari fraksi larut NDS dan yang tidak larut NDS (berupa residu)
    d. Residu dicuci dengan 50 ml air panas bersuhu 80°C hingga busa menghilang, dan dilanjutkan dengan 50 ml aseton yang diulangi dua kali.
    Pencucian dengan air panas bertujuan untuk melarutkan kemungkinan sisa fraksi terlarut yang masih berada didalam residu sekaligus melarutkan sisa larutan NDS dalam residu. Pemakaian air panas diperuntukan untuk menjaga stabilitas suhu, dan dilanjutkan dengan pemakaian aseton yang digunakan untuk menetralkan suasana sehingga proses hidrolisis bisa terhenti serta melarutkan lemak yang mungkin tersisa diresidu.
    e. Sampel dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105 – 110° C selama 8 jam, apabila sudah tidak berbau aseton, kemudian dimasukkan ke dalam eksikator selama 15 menit dan ditimbang.
    Hasil residu yang diharapkan berupa selulosa, hemiselulosa dan lignin, yang akan di hitung dengan metode gravimetri. Pengovenan dilakukan untuk menghilangkan kadar air didalam residu. Data yang didapat dimasukkan kedalam rumus.
    f. Menghitung Neutral Detergent Fiber sampel dengan rumus :
    % Kadar NDF = 𝑪−𝑩𝑨 𝒙 𝟏𝟎𝟎%
    Keterangan :
    A : Bobot sampel (gram)
    B : Bobot krusibel konstan (gram)
    C : Bobot krusibel + residu setelah pemanasan(gram)

    D. Penetapan Lignin
    Melakukan analisis ADF terlebih dahulu
    Penetapan lignin merupakan lanjutan dari analisis ADF
    -Krusibel yang berisi ADF diletakkan diatas petridisk. Tambah 20 ml H2SO4 72% dan sekali-kali diaduk untuk memastikan bahwa serat terbasahi dengan H2SO4 72% tersebut.
    Penambahan H2SO4 72% bertujuan menghidrolisis selulosa dan lignin. Dimana selulosa apabila bereaksi secara terus menerus dengan asam akan larut sedangkan lignin tidak larut sehingga dapat dilakukan penetapan kadar lignin
    Biarkan selama 3 jam kemudian lakukan filtrasi dengan menggunakan pompa vacum sambil dibilas dengan air panas secukupnya
    Inkubasi selama 3 jam bertujuan agar reaksi hidrolisis dapat berjalan dengan maksimal. Serta penggunaan pompa vacuum berfungsi untuk mempercepat proses filtrasi dengan bilasan air panas yang bertujuan untuk menghentikan proses hidrolisis
    Setelah itu masukkan kedalam oven selama 8 jam pada suhu 100°C atau dibiarkan bermalam
    Pengovenan dilakukan untuk menghilangkan kadar air didalam sampel sehingga mencapai berat konstan. Inkubasi semalaman merupakan suatu pilihan opsional, tergantung kandungan air didalam sampel yang digunakan.
    Masukkan ke dalam desikator kemudian timbang (d gram)
    Penggunaan desikator bertujuan untuk benar benar menghindari kontak sampel dengan uap air setelah pengovenan sehingga didapat berat yang benar benar konstan
    Masukkan kedalam tanur listrik atau panaskan hingga 500°C selama 2 jam, biarkan agak dingin kemudian masukkan kedalam deksikator selama 30 menit.
    Proses pengabuan bertujuan untuk pengkoreksian kadar lignin dalam sampel dengan membandingkan dengan kandungan mineral yang ada dalam komponen tersebut
    -Timbang hasil abu yang didapat (e gram), kemudian masukkan data yang ada kedalam rumus untuk menentukan kadar lignin dalam sampel
  10. Penetapan kadar Lignin sampel dengan rumus :
    % Lignin = 𝑫−𝑬𝑨 𝒙 𝟏𝟎𝟎%
    Keterangan :
    D : Bobot setelah pengovenan (gram)
    B : Bobot setelah pengabuan (gram)
    A : Bobot sampel (gram)

    E. Bagaimana cara memperoleh kadar hemiselulosa?
    Selisih kadar NDF dan kadar ADF dianggap jumlah kandungan hemiselulosa.
    % hemiselulosa = % NDF – % ADF

    F. Bagaimana cara memperoleh kadar selulosa?
    Selisih kadar ADF dan kadar lignin dianggap jumlah kandungan selulosa.
    % selulosa = % ADF – % lignin

destiny?

So, this is my (very very) first content in my personal blog, yeayy. Dari dulu emang selalu kepengen nyoba buat konten blog, tapi diri ini terlalu gaptek dan tidak mau belajar hehe (jangan ditiru ya). Postingan pertama ini aku dedikasikan untuk diriku sendiri yang telah berhasil melewati tahun tahun (yang cukup) berat ditanah rantauan ini.

Dulu, beberapa tahun yang lalu tepatnya tahun 2016, aku dituntut untuk memutuskan langkah untuk masa depan seorang diri. Keluarga selalu mendukung dan yang harus memutuskan adalah aku. Ya, aku. Tidak pernah terfikirkan untuk pergi merantau dan jauh dari keluarga. Sedari kecil sudah menentukan target yang harus dicapai, dan aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencapainya. Hampir setiap harinya yang dilakukan hanya belajar, belajar dan belajar. Namun, memang nasib berkata lain, aku bisa berbuat apa? Sejujurnya tidak seburuk itu, awalnya hanya takut karena tidak dapat beradaptasi namun lama kelamaan akhirnya terbisa (walaupun diisi kebiasaan menangis sebelum tidur hehe)

Banyak hal positif yang aku dapatkan di tanah rantauan. Teman yang berasal dari latar belakang yang berbeda, asal, suku, ras dan terutama rasa toleransi mereka yang tinggi membuat masa masa perkuliahan cukup menyenangkan. Mulai bisa mengerti karakter orang yang pasti berbeda hingga berhasil mencintai profesi yang kujalani sekarang ini.

Selera makan (tentu saja) sangat berbeda, tapi tenang… namanya juga orang Indonesia, sifat receh mereka selalu membuatku tertawa.

Untuk postingan berikutnya, aku akan membahas lagi mengenai profesi yang sedang aku tekuni selama hampir 4 tahun ini. Can you guys guess what is it?